Jumat, 12 Oktober 2012

TIK MASUK PESANTREN


                WORKSHOP TIK di Pondok Pesantren Hudatul Muna Dua yang berlokasi di Jl Yos Sudarso 2 B Ponorogo, terselenggera atas kerjasama Majelis Muwasholah Bainal Ulama wal muslimin, Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Telkom dan Telkomsel. Kerjasama yang sangat baik dalam usaha peningkatan dakwah islamiyah lewat media internet. Workshop yang diikuti 40 lebih santri dari Pondok Pesantren di wilayah mataraman diharapkan menciptakan kader Ulama yang tidak hanya aktif dakwah di dunia nyata, namun mampu aktif dakwah di dunia maya. Banyak kelebihan apabila ulama dakwah melalui media internet, diantaranya percepatan dakwah, sebab sekali postingan dakwah dapat diakses ribuan bahkan jutaan orang di seluruh dunia.
                Media internet sering dikonotasikan sebagai hal yang negatif (sumber porno, seks, dll). Namun, media internet pada zaman modern ini adalah sebuah keniscayaan. Media internet bisa diibaratkan sebuah gelas tergantung diisi apa oleh orang yang memegangnya. Pada workshop kali ini Kyai Imam, Ketua majelis Muwasholah Bainal Ulama wal muslimin, mengatakan :”yang kita rubah bukan alatnya tetapi pola pikir kita, banyak hal positif yang bisa dimanfaatkan dari media internet”.
INTERNET DAN AHLUSSUNAH WAL JAMAAH
                Akhir-akhir ini banyak beredar postingan-postingan dari orang-orang yang sengaja merusak generasi muda, tujuan mereka adalah materi. Selain itu banyak juga postingan-postingan dari segelintir orang yang tidak berhaluan Ahlussunah waljamaah, seperti Salafy Wahaby, Syi’ah atau MTA. Setelah diadakan workshop ini diharapkan para santri pondok pesantren yang tentunya berhaluan Ahlussunah Wal Jamaah mampu berperan aktif dalam rangka mengkonter pengaruh-pengaruh segelintir orang yang melenceng dari Ahlussunah Wal Jamaah.
                Pada workshop yang dilaksanakan pada tanggal 11,12 dan 13 Oktober 2012, para santri diajari tentang Sosial Media, Live Tv Streaming dan Radio streaming. Semoga workshop ini benar-benar bermanfaat bagi Para santri pada umumnya dan khususnya bagi para santri di wilayah mataraman.
KEMAJUAN DAN PERUBAHAN PARADIGMA KIAI PESANTREN TRADISIONAL
                Slogan yang populer di kalangan pesantren adalah “Al Muhafadzotu ‘ala al-Qodimi al-Sholih wal akhdu bi al-jadidi al-ashlah” menjaga pola lama yang baik dan mengambil pola baru yang lebih baik. Di akhir-akhir ini sudah mulai banyak kiai dari pondok pesantren tradisional yang well come dengan kemajuan. Yakni menggunakan alat-canggih sebagai media dakwah, mulai dari radio, televisi, media cetak bahkan internet.
                Alhamdulillah di dunia maya, sosial media baik itu dari jejaring sosial facebook, blog maupun website yang lainnya sudah mulai banyak diisi para kiai Pondok Pesantren. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengkonter pengaruh-pengaruh buruk dari media yang dilakukan oleh salafy wahaby, syi’ah, MTA bahkan dari non muslim.
                Ustadz M.Sholehan Alumni dan Ustadz Pondok Pesantren HUDATUL MUNA Yang bermukim di desa Carat Sukorejo Ponorogo ngaji melalui Hand Phone        untuk Santri yang ada di Sumatra. Ustadz M.Syahrul Munir (salah satu Ustadz di Pondok Pesantren Hudatul Muna) juga ngaji via Hand Phone untuk santri di Nganjuk. Selain itu Kiai dan Ustadz dari Pondok Pesantren di Ponorogo banyak yang menjadi Pengisi acara di Aswaja FM Ponorogo, baik itu ngaji kitab kuning dan pengajian umum. KM Mushlih Al Baroni (Pengasuh Pondok Pesantren Hudatul Muna Dua) pernah ngaji melalui internet untuk TKW di Hongkong.
                Menjadikan internet sebagai alat bukan sebagai tujuan itulah  prinsip yang harus dipegang. Lil wasail hukmu al-maqoshid (hukum perantara itu tergantung tujuannya). Hukum internet tergantung tujuan dari pemakainya. Gus Navis ( Dosen UPN) mengatakan internet ibarat pisau tergantung yang memiliki pisau apa yang dilakukannya dengan pisau itu.
                Paradigma yang ada pada pesantren tradisional adanya larangan hp, bahkan lap top bagi santrinya. Sebuah kebijakan yang dirasa perlu sebab alat-alat canggih memang sering menggelincirkan orang untuk hal yang tidak baik. Misal : kalau santri diperbolehkan memakai hp di pondok, ternyata banyak kegiatan pondok yang kedodoran, karena santri tersebut keasyikan sms atau telpon. Belum lagi apabila internet diperbolehkan santri akan menjadi penghuni dunia maya, sedangkan ia melupakan kewajibannya di dunia nyata yakni belajar.
                Dalam belajar mengajar santri harus fokus terhadap pelajarannya. Maka, dalam kitab mathlab karya ibnu al muwafiq halaman 9 santri dianjurkan untuk meninggalkan kesibukan-kesibukan yang mengganggu fokusnya siswa dalam belajar. Seperti dalam nadzaman yang artinya :
                Jauhilah (wahai pelajar) kebun dan toko #
                                Serta tinggalkanlah perkara terkait yang menyibukkanmu
Syaikh Ibnu al Muwafiq mencontohkan kebun dan toko sebagai hal yang menyibukkan santri, sehingga santri tidak fokus terhadap pelajarannya.
                Bagaimana dengan internet? Kalau kita melihat sebagai hal yang menyibukkan, maka tidak salah sebab kalau  santri sudah browsing, maka santri akan lupa dan asyik dengannya. Apa yang harus kita lakukan? Pola pikir santri yang harus dirubah bahwa banyak hal positif yang didapat dari internet atau banyak hal yang kebaikan yang kita salurkan melalui internet.
Wallahu a'lam.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

hujan salju

Pengikut

BUKU TAMU

Total Tayangan Laman